Kesusastraan Melayu tentang Gurindam Dua Belas

A. Gurindam

Kata gurindam berasal dari bahasa Tamil (kirindam) yang berarti “umpama”. Gurindam sendiri berada di tanah melayu melalui proses perdagangan yang dibawa oleh orang orang tamil yang hendak berdagang di Indonesia. Gurindam adalah suatu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Gurindam biasanya terdiri dari dua kalimat yang dibagi menjadi dua baris yang bersajak. Tiap-tiap baris tersebut merupakan sebuah kalimat majemuk yang merupakan induk dan anak kalimat.

Gurindam memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu:

1. Rangkap

Gurindam memiliki dua atau beberapa baris dalam satu bait. Setiap baris memiliki isi atau maksud dan bersambung dengan baris rangkap selanjutnya, sehingga membentuk satu makna yang lengkap. Baris pertama berisi syarat dan baris kedua berisi jawaban dari “syarat” baris pertama.

2. Perkataan dan Suku Kata

Jumlah kata-kata tiap baris dan suku kata tidak terbatas.

3. Rima

Rima akhir tidak tetap. Tetapi sering kita temukan (didalam Gurindam Dua Belas memiliki rima yang terdengar sama)

B. Pengarang Gurindam 12

Raja Ali Haji adalah pengarang dari sebuah karya yang sangat terkenal, yaitu Gurindam Dua Belas. Raja Ali Haji diperkirakan hidup antara tahun 1808—1873. Ia adalah seorang bangsawan, sastrawan, sejarawan, budayawan, ulama, dll. Ayahnya, Raja Ahmad, adalah seorang penasihat Kerajaan dan ibunya, Encik Hamidah binti Panglima Selangor, adalah putri Raja Selangor. Sedangkan kakeknya bernama Raja Haji Fisabillih. Berbagai ilmu, seperti agama Islam, adat-istiadat, dan bahasa Melayu dan Arab, telah dipelajari oleh Raja Ali Haji. Bakatnya yang menonjol adalah menulis dan ia sangat berminat pada bidang sejarah, adat-istiadat, pemerintahan, dan syair.

Setelah dewasa, Raja Ali Haji menuangkan semua yang diketahuinya ke dalam tulisan –tulisan yang isinya beragam. Karyanya antara lain Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa, Bustanulkatibin (Taman para penulis),  Tsamarat al Muhimmah (ajaran yang berguna), Tuhfat al Nafis (Hadiah yang berharga), Silsilah Melayu dan Bugis, Syair suluh Pegawai, Syair Siti Sianah, Syair Sinar Gemala Mestika Alam. Gurindam Dua Belas termasuk dalam salah salah satu karya sastra puisi lama yang sangat terkenal hingga sekarang. Tetapi, kemunculan karya sastra gurindam mulai tersingkirkan perlahan-lahan sekitar tahun 1998-2000an, Hal ini disebabkan muncul karya sastra puisi baru atau modern yang lebih mendominasi perhatian masyarakat.

C. Gambaran Umum tentang Gurindam Dua Belas

1. Sejarah

Gurindam termasuk ke dalam puisi lama Indonesia yang terdapat dalam masyarakat Melayu. Gurindam yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas yang dikarang oleh Raja Ali Haji (1809-1872). Dinamakan Gurindam Dua Belas dikarenakan memiliki dua belas pasal. Gurindam Dua Belas memiliki keistimewaan yaitu karya sastra yang mampu tegak sendiri tanpa kawan. Raja Ali Haji mneyebutkan arti gurindam tersebut di dalam pengantar karyanya. Di dalam pengantar itu juga disebutkan tanggal, manfaat, dan perbedaan gurindam dengan syair.

“Inilah Gurindam Dua Belas Namanya”

Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta shalawatkan Nabi

yang akhirul zaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya

Amm ba’du daripada itu maka tatkala sampailah hijratun Nabi 1263

Sannah kepada dua puluh tiga hari bulan Rajab hari Selasa maka

Diilhamkan Allah Ta’ala kepada kita yaitu Raja Ali Haji mengarang

satu gurindam cara Melayu yaitu yang boleh juga diambil faedah

Sedikit-sedikit perkataannya itu pada orang yang ada

menaruh akal maka adalah banyaknya gurindam itu hanya dua belas pasal di dalamnya

Syahdan

adalah beda antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula

Bermula arti syair melayu iaitu perkataan yang bersajak serupa

dua berpasang pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna

perkataan pada satu-satu pasangnya bersalahan dengan gurindam

Adapun gurindam itu iaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir

pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangan sahaja

Jadilah seperti saja yang pertama itu syarat dan syair sajak yang

kedua itu jadi seperti jawab

Bermula inilah rupa syairnya

Dari pengantar gurindam tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa gurindam Dua Belas memiliki ajaran dan tuntunan moral yang berlandaskan agama Islam, selain itu, Gurindam Dua Belas juga menjadi wadah untuk Raja Ali Haji melakukan syiar Islam.

Raja Ali haji menulis Gurindam Dua Belas berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya. Kumpulan pasal-pasal dalam Gurindam Dua Belas ini berisi tentang ibadah, kewajiban raja,, kewajiban anak, kewajiban orang tua, budi pekerti luhur, dan hidup dalam bermasyarakat. Sesuai dengan prinsip gurindam, yaitu larik pertama adalah “syarat” sedangkan larik kedua merupakan “jawab”, larik kedua pada Gurindam Dua Belas menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang apabila seseorang masuk ke dalam kondisi pada larik pertama. Apabila banyak mencela orang, itulah tanda dirinya kurang berarti bila seseorang berada dalam kondisi sering (banyak) mencela orang lain, berarti ia adalah orang yang kurang baik atau memiliki cacat yang sebenarnya pantas dicela. Gurindam Dua Belas menggunakan Bahasa Melayu yang merupakan dasar dari Bahasa Indonesia.

2. Irama

Gurindam Dua Belas memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi. Baik dari nilai pendidikan, nilai agama, nilai sosial, nilai moral serta nilai seni. Jika kita melihat dari nilai seni, Gurindam Dua Belas sering dibawakan dengan iringan lagu-lagu bernuansa khas melayu. Setiap pasal disenandungkan dengan irama yang berbeda-beda. Tapi, muncul kerancuan mengenai irama yang dibawakan ketika membacakan Gurindam Dua Belas pasal dua belas. Banyak masyarakat yang sering menggunakan irama yang sama sehingga muncullah pemikiran masyarakat yang mengatakan bahwa irama Gurindam Dua Belas pasal dua belas harus menggunakan irama tersebut. Seolah-seolah irama tersebut merupakan irama yang wajib untuk dinyanyikan. Sebenarnya, hal ini tidak benar. Karena setiap irama yang digunakan utnuk membawakan Gurindam Dua Belas adalah bebas, asalkan memiliki aturan-aturan yang baik, intonasi yang tepat.

D. Makna

1. Pasal Pertama

Pasal pertama berisi tentang agama. Raja Ali haji menempatkan agama sebagai hal yang paling utama dan terpenting bagi diri dan rakyatnya.

2. Pasal Kedua

Isi dari pasal kedua juga masih tentang agama. Semakin manusia mengenal Allah, maka semakin takut ia pada-Nya. Perintah-perintah-Nya wajib kita laksanakan, terutama yang tercantum dalam rukun Islam, shalat, puasa, zakat, dan naik haji.

3. Pasal Ketiga

Dalam pasal ketiga, Raja Ali Haji mengingatkan betapa pentingnya menjaga anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

4. Pasal Keempat

Dalam pasal keempat, Raja Ali haji berbicara tentang budi pekerti. Hati adalah inti dari jiwa manusia. Hati yang dengki hanya akan merugikan diri sendiri. Berbicara harus dipikir supaya tidak celaka karenanya. Amarah adalah perbuatan sia-sia.

5. Pasal Kelima

Rangkap pertama pada pasal kelima bermakna orang yang bersifat baik tampak dari perbuatannya. Orang yang mulia dan berbangsa dapat kita lihat dari perilaku dan tutur katanya.

6. Pasal Keenam

Melalui pasal keenam, Raja Ali Haji memberi tahu orang-orang seperti apa yang sebaiknya ada disekitar kita.

7. Pasal Ketujuh

Pasal ketujuh juga berisi tentang budi pekerti. Orang yang banyak bicara memperbesar kemungkinan berdusta. Terlalu mengharapkan sesuatu akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam saat sesuatu itu tidak seperti yang diharapkan.

8. Pasal Kedelapan

Dalam pasal kedelapan, Raja Ali Haji berpesan kalau orang yang ingkar dan aniaya terhadap dirinya sendiri tidak dapat dipercaya.

9. Pasal Kesembilan

Dengan membaca pasal kesembilan, kita bisa tahu kondisi seperti apa yang membuat setan datang atau pergi. Manusia yang mengerjakan pekerjaan yang tidak baik diibaratkan sebagai setan.

10. Pasal Kesepuluh

Kewajiban terhadap orang tua, anak, istri, dan teman dibahas dalam pasal kesepuluh. Anak harus hormat dan berbakti pada ayah-ibunya.

11. Pasal Kesebelas

Kita hendaknya menolong sesama, terutama yang sebangsa. Kita harus membuang sifat-sifat buruk dan memegang amanat.

12. Pasal Keduabelas

Pasal yang kedua belas atau pasal yang terakhir membahas tentang kewajiban raja, orang yang berilmu, dan hikmah kematian.

E. Kesimpulan

Gurindam Dua Belas merupakan Karya Ali Haji yang sangat terkenal. Kumpulan pasal dalam gurindam merupakan salah satu bentuk syi’ar Raja Ali Haji. Bertujuan untuk memberikan tuntunan moral yang berbasis agama Islam. Gurindam Dua Belas merupakan warisan budaya Melayu untuk Indonesia yang harus dilestarikan. Selain itu, irama yang sering disenandungkan untuk membaca gurindam bisa beragam asalkan memiliki alunan-alunan yang baik, serta intonasi yang kuat. Tidak perlu untuk terus menggunakan irama yang sama.

Gurindam dapat terkenal hingga sekarang karena memiliki keindahan seni yang dihiasi dengan tuntunan moral, sehingga popular hingga sekarang. Selain itu, isinya yang lebih singkat, padat dapat dengan mudah diterima hingga masyarakat hingga sekarang.

F. Sumber

Dra. Hj. R. Suzana Fitri, M.Pd

(Dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji)

Aziz

(Penjaga dan Pemelihara Makam Engku Putri Pulau Penyengat)

G. Lampiran

Gurindam Dua Belas di Pemakaman Engku Putri Pulau Penyengat

C360_2014-06-21-11-04-01-184  C360_2014-06-21-11-04-46-383

C360_2014-06-21-11-04-51-603  C360_2014-06-21-11-04-58-828

C360_2014-06-21-11-05-10-754  C360_2014-06-21-11-05-32-557

C360_2014-06-21-11-05-37-461  C360_2014-06-21-11-05-52-936

C360_2014-06-21-11-06-02-538  C360_2014-06-21-11-06-10-546

C360_2014-06-21-11-06-16-200

Makam Engku Putri

C360_2014-06-21-11-04-21-480

C360_2014-06-21-11-06-22-983

Makam Raja Ali Haji

C360_2014-06-21-11-13-47-357

Sekian dan Terima Kasih

article by Oktaviana Andriani

130388201014

F1

Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Maritim Raja Ali Haji